SATURNUS
Saturnus
adalah sebuah planet
di tata
surya yang dikenal juga sebagai planet bercincin, dan
merupakan planet terbesar kedua di tata surya setelah Jupiter.
Jarak Saturnus sangat jauh dari Matahari,
karena itulah Saturnus tampak tidak terlalu jelas dari Bumi.
Saturnus berevolusi dalam waktu 29,46 tahun. Setiap 378 hari, Bumi, Saturnus
dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus. Selain berevolusi, Saturnus
juga berotasi dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 10 jam 40 menit 24 detik.
Saturnus
memiliki kerapatan yang rendah karena sebagian besar zat penyusunnya berupa gas
dan cairan. Inti Saturnus diperkirakan terdiri dari batuan padat dengan atmosfer
tersusun atas gas amonia
dan metana,
hal ini tidak memungkinkan adanya kehidupan di Saturnus.
Cincin
Saturnus sangat unik, terdiri beribu-ribu cincin yang mengelilingi planet ini.
Bahan pembentuk cincin ini masih belum diketahui. Para ilmuwan berpendapat,
cincin itu tidak mungkin terbuat dari lempengan padat karena akan hancur oleh gaya
sentrifugal. Namun, tidak mungkin juga terbuat
dari zat cair karena gaya sentrifugal akan mengakibatkan timbulnya gelombang.
Jadi, sejauh ini, diperkirakan yang paling mungkin membentuk cincin-cincin itu
adalah bongkahan-bongkahan es meteorit. Cincin ini terentang dari 6.630 km -
120.700 km di atas atmosfer Saturnus.
Inti
Planet
Inti
Planet Saturnus mirip dengan Yupiter.
Planet ini memiliki inti planet di pusatnya dan sangat panas, temperaturnya
mencapai 15.000 K
(26.540 °F, 14.730 °C).
Inti Planet Saturnus sangat panas dan inti planet ini meradiasi sekitar 21/2
kali lebih panas daripada jumlah energi yang diterima Saturnus dari Matahari.
Inti Planet Saturnus sama besarnya dengan Bumi,
namun jumlah massa jenisnya lebih besar. Diatas inti Saturnus terdapat bagian
yang lebih tipis yang merupakan hidrogen
metalik, sekitar 30.000 km (18.600 mil). Diatas bagian
tersebut terdapat daerah liquid hidrogen dan helium.
Inti planet Saturnus berat, dengan massa
sekitar 9 sampai 22 kali lebih dari massa
inti Bumi.[16]
Medan
gaya
Saturnus
memiliki medan gaya alami yang lebih lemah dari Yupiter.
Medan gaya Saturnus unik karena porosnya simetrikal, tidak seperti planet
lainnya. Saturnus menghasilkan gelombang radio, namun mereka terlalu lemah
untuk dideteksi dari Bumi. satelit dari Saturnus, Titan
mengorbit di bagian luar medan gaya Saturnus dan memberikan keluar plasma
terhadap daerah dari partikel dari atmosfer Titan yang yang diionisasi.
Rotasi
dan orbit
Jarak
antara Matahari
dan Saturnus lebih dari 1,4 miliar
km,
sekitar 9 kali jarak antara Bumi
dan Matahari.
Perlu 29,46 tahun Bumi untuk Saturnus untuk mengorbit Matahari
yang diketahui dengan nama periode orbit Saturnus. Saturnus memiliki
periode rotasi selama 10 jam 40 menit 24 detik waktu Bumi. Namun, Saturnus
tidak merotasi dalam rata-rata yang konstan. Periode rotasi Saturnus tergantung
dengan kecepatan rotasi gelombang radio yang dikeluarkan oleh Saturnus. Pesawat
angkasa Cassini-Huygens
menemukan bahwa emisi radio melambat dan periode rotasi Saturnus meningkat.
Tidak diketahui hal apa yang menyebabkan gelombang radio melambat.
Cincin
Saturnus
Saturnus
terkenal karena cincin di planetnya, yang menjadikannya sebagai salah satu
obyek dapat dilihat yang paling menakjubkan dalam sistem tata surya.
Sejarah
Cincin
itu pertama sekali dilihat oleh Galileo
Galilei pada tahun 1610
dengan teleskopnya,
tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis kepada adipati Toscana
bahwa "Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari tiga yang hampir
bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan
zodiak dan yang di tengah (Saturnus) adalah tiga kali besar yang lurus (penjuru
cincin)". Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki "telinga."
Pada tahun 1612
sudut cincin menghadap tepat pada bumi
dan cincin tersebut akhirnya hilang dan kemudian pada tahun 1613
cincin itu muncul kembali, yang membuat Galileo bingung.
Persoalan
cincin itu tidak dapat diselesaikan sehingga 1655
oleh Christian Huygens,
yang menggunakan teleskop yang lebih kuat daripada teleskop yang digunakan
Galileo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar